Persiapan Calon Pengantin Menjelang Pernikahan

administrator 05 Juni 2018 pendidikan
imgdetail2018060515280054.jpg

Sri Untari Mahasiswi Universitas Indonesia 

Bekasi - Pernikahan adalah awal terbentuknya keluarga, hampir semua orang akan melewati proses pernikahan. Selain keuangan persiapan lainnya yang tak kalah penting adalah kesehatan kedua mempelai itu sendiri baik secara fisik dan psikologi.


Data Ditjen Badilag Mahkamah Agung  tahun 2010 jumlah perceraian mencapai 251.208 pasangan, perceraian dari tahun ke tahun terus meningkat tajam. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor DJ.II/542 Tahun 2013 dituliskan bahwa setiap pasangan calon pengantin perlu mengikuti pembekalan singkat (short course) dalam bentuk kursus pranikah. 

Depkes (2014) menganjurkan setiap calon pasangan pengantin melakukan persiapan kesehatan pranikah. Persiapan fisik yang terdiri dari pemeriksaan status kesehatan, pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan urin, persiapan gizi, dan status imunisasi Tetanus Toksiod, dan konsultasi terkait pernikahan.
Tujuan dari pemeriksaan dan konsultasi kesehatan untamanya untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah, disisi lain untuk menghindari permasalahan reproduksi dan psikologi yang biasanya terjadi pada perempuan, salah satunya persiapan kehamilan. Jika ingin memiliki keturunan yang sehat dan unggul, sebaiknya dilakukan persiapan gizi sebelum kehamilan terjadi, namun pada pasangan muda yang baru saja menikah, hal ini tidak banyak di ketahui. Maka dari itu pentingnya pemeriksaan dan konsultasi.

 

Mitos yang beredar juga mempengaruhi kehidupan rumah tangga, contohnya adalah mitos hubungan seks pertama kali selalu di tandai dengan keluarnya darah dari vagina, bila pasangan calon pangantin tidak diberi edukasi mengenai hal ini, keretakan rumah tangga dapat terjadi di awal pernikahan.

 


Namun hal ini sering sekali terabaikan, yang disebabkan kurangnya keperdulian, pengetahuan, dan promosi kesehatan pada calon pengantin. Persiapan kesehatan ini dapat di lakukan di semua fasilitas pelayanan kesehatan, diantaranya puskesmas dan rumah sakit. Dan penyelenggaraan kursus pranikah dilakukan oleh KUA atau LSM. Pemerataan kursus dan pengecekan kesehatan pranikah membutuhkan pembentukan peraturan kebijakan yang lebih kuat agar setiap warna Negara Indonesia yang akan menikah dapat menjalankan keseluruhan proses pranikah. Red



 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Berita pilihan

iklan12018090420_IMG-20180904-WA0015.jpg