Hadiri Festival Bedug dan Dongdang di Mustikajaya, Pepen Puji Kekompakan Masyarakat Lestarikan Budaya Tradisional

administrator 15 Juli 2018 daerah
imgdetail2018071509470002.jpg

Anggota DPRD Kota Bekasi, Solihin, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi, Zarkasih, Camat Mustikajaya Atty Rostati, dan segenap tokoh masyarakat

Mustikajaya - Masyarakat Kecamatan Mustikajaya kembali menggelar festival adu bedug dan dongdang yang menjadi tradisi rutin tahunan untuk melestarikan seni dan kebudayaan asli Mustikajaya. Kegiatan yang sudah berjalan selama 13 tahun ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Bekasi terpilih, Rahmat Effendi.

Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Olahraga Mini Natrom Nursyamsu, Sabtu (14/7), ini juga dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, yang juga penggagas festival adu bedug dan dongdang saat masih menjabat Camat Mustikajaya pada tahun 2005. Nampak hadir juga anggota DPRD Kota Bekasi, Solihin, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi, Zarkasih, Camat Mustikajaya Atty Rostati, dan segenap tokoh masyarakat.

Dalam lomba adu bedug ini, kriteria penilaian meliputi keindahan irama bedug yang ditabuh. Sedangkan untuk lomba dongdang, penilaian meliputi kelengkapan dan kelezatan menu masakan yamg tersaji di dalam dongdang. Dongdang biasanya dibawa mempelai pengantin saat melakukan pinangan atau lamaran, sedangkan tradisi adu bedug biasanya dimeriahkan saat perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Saat menyampaikan sambutannya, Wali Kota Bekasi terpilih, Rahmat Effendi, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk membangun Kota Bekasi dengan kebersamaan dan rasa saling memiliki. "Jangan lagi mempermasalahkan suku atau agama, karena semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama," ungkap lelaki yang akrab disapa Pepen ini.

Pepen kemudian memuji kepedulian masyarakat Kecamatan Mustikajaya yang ikut peduli melestarikan seni dan kebudayaan tradisional. "Festival adu bedug dan dongdang ini bukti keguyuban masyarakat Mustikajaya yang selalu akur, kompak, dan peduli terhadap budaya asli Bekasi," ujarnya.

"Kalau perlu, usai kegiatan ini, malamnya ada pagelaran hiburan rakyat, entah itu wayang kulit, golek, atau topeng Betawi. Hiburan ini untuk seluruh masyarakat Kota Bekasi tanpa terkecuali," papar Pepen. (Mulyono)

Berita pilihan

iklan12018090420_IMG-20180904-WA0015.jpg